JANGAN TERLALU BANGGA DENGAN APA YANG KAMU PAMERKAN
Kasihan melihat orang yang terlalu sibuk memamerkan apa yang baru dimilikinya. Bukan karena orang lain iri, tetapi terkadang mereka sendiri tidak sadar bahwa sesuatu yang dianggap luar biasa oleh dirinya, bisa jadi sudah biasa bagi orang lain.
Baru membeli perabot rumah, dipamerkan.
Makan di tempat mewah, dipamerkan.
Memakai perhiasan, dipamerkan.
Membeli pakaian baru, dipamerkan.
Jalan-jalan, dipamerkan.
Apa saja yang baru dinikmati, seolah dunia harus tahu.
Padahal, bisa jadi orang yang melihatnya sudah lebih dulu memiliki, lebih dulu menikmati, bahkan mungkin jauh lebih dari itu—hanya saja mereka memilih diam dan tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada publik.
Sebab, orang yang benar-benar menikmati hidup biasanya tidak terlalu sibuk meyakinkan orang lain bahwa hidupnya sedang baik-baik saja.
Pamer bukan selalu tanda keberhasilan. Terkadang, pamer justru menunjukkan bahwa seseorang masih membutuhkan pengakuan dari orang lain.
Tidak salah menikmati hasil kerja keras. Tidak salah membeli sesuatu yang kita sukai. Tidak salah berbagi kebahagiaan.
Yang perlu dipikirkan adalah: apakah kita sedang bersyukur, atau sedang mencari pengakuan?
Karena nilai sebuah kehidupan bukan diukur dari berapa banyak yang berhasil kita tunjukkan kepada orang lain, tetapi dari seberapa banyak yang bisa kita syukuri tanpa harus dipertontonkan.
Barang mewah tidak otomatis membuat seseorang berkelas. Pakaian mahal tidak otomatis membuat seseorang terhormat. Makanan mahal tidak otomatis membuat hidup lebih mulia.
Kelas seseorang terlihat dari sikapnya.
Kekayaan terlihat dari caranya memperlakukan orang lain.
Dan kedewasaan terlihat dari kemampuannya menikmati sesuatu tanpa merasa harus membuat orang lain tahu.
Jadi, boleh punya, boleh menikmati, tetapi tidak perlu berlebihan memamerkan.
Sebab bagi sebagian orang, apa yang kamu banggakan hari ini mungkin sudah mereka miliki sejak lama—dan mereka memilih diam karena tahu bahwa tidak semua yang kita punya harus diketahui dunia.
Hidup bukan perlombaan pamer.
Kebahagiaan tidak membutuhkan penonton.
Dan orang yang benar-benar berharga tidak perlu sibuk membuktikan bahwa dirinya berharga.
